09 Oktober 2009
Bejo Berguru Pada Alam
Sebelumnya mohon maaf para pembaca setia, akhir-akhir ini ada kesibukan yang membuat saya sulit mencari waktu untuk menulis, maaf juga bagi para pembaca terdahulu khususnya buat cak imron yang setia mengikuti blog saya, memang sengaja format tulisannya saya rubah menjadi cerita agar lebih bisa di mengerti dan di nikmati, langsung saja kembali menuju sambungan cerita bejo.
Ini adalah hari ke sekian bejo pergi dari rumah, pagi itu bejo ikut kang jiwo menjaga lahan pakirnya di pertokoan tengah kota, di situ bejo di kenalkan teman akrab kang jiwo, sebut saja namanya cak pri, "cak pri kenalkan ini saudara dari seberang, namanya bejo", sapa kang bejo ke cak pri, sambil cak pri mengulurkan tangannya dengan akrab ke bejo "kemana saja cak selama ini kok baru muncul" lanjut kang jiwo, "biasa kang, naik turun gunung" jawab cak pri, cak pri ini memang di kenal sebagai petualang yang suka menjelajahi hutan dan pegunungan, sudah puluhan gunung yang dia daki, "cak pri, selama kamu mendaki gunung dan menjelajahi hutan, apa pernah cak pri mengalami pengalaman mistis yang baik di ceritakan untuk saya" tanya bejo, sambil tersenyum cak pri menjawab "tentunya pernah jo, tapi menurutku gak perlu kamu tau, yang perlu kamu tau, aku ini mendaki gunung dan menjelajah hutan bukan untuk yang gitu-gitu","ada kepuasan tersendiri jo saat ada di puncak gunung, gunung apapun itu, tapi kamu jangan ngeres otaknya" lanjut cak pri sambil tertawa, "memang pelajaran apa cak yang bisa di ambil dari mendaki gunung" tanya bejo lagi, "banyak jo, yang paling berkesan saat kakimu menginjak puncaknya, kamu akan terasa kecil jo, disitu dunia terlihat sangat luas, tidak ada korupsi, tidak ada suara mesin pabrik dan kendaraan, tidak asap rokok dan knalpot, pemandangannya indah sekali jo, pokoknya banyak jo" jawab cak pri, kemudian bejo bertanya kembali "tapi menurutku sebenarnya bukan itu yang membuat cak pri ketagihan naik gunung, pasti ada yang lain, apa itu cak pri?", "kamu itu jo pinter mancing cerita, memang bukan itu intinya, saat di gunung jo aku merasa sangat lemah tanpa daya, andaikan Tuhan ingin aku mati seketika, Tuhan gak perlu repot-repot jo, tinggal letuskan gunung dan bukan aku saja yang mati tapi ribuan orang pasti juga akan mati, lah kalau sudah begitu apa yang bisa di sombongkan oleh manusia, pantaskah kita sombong?" cak pri menjawab sambil tertunduk.
Pembicaraan berlangsung sangat seru antara tiga orang itu, kemudian kang jiwo berkata "kamu tunggu sebentar ya jo, aku mau ngatur kendaraan ini dulu, sambil pesen minum, kamu suka apa jo, kopi apa teh?", "gak usah kang jiwo aku hari ini mau libur makan minum" jawab bejo, "oh ya sudah kalau begitu lanjutkan pembicaraanmu sama cak pri ini" jawab kang jiwo sambil pergi menuju areal parkirnya.
"cak pri apa harus pergi kegunung dulu untuk aku nimba ilmu" tanya bejo ke cak pri, "ya gak jo, kamu itu bisa saja, tapi banyak cerita menarik di gunung, kalau aku balik bertanya padamu, kenapa nabi Musa pergi ke gunung tursina, untuk dialog dengan Tuhannya? terus kenapa nabi Muhammad sampai nyepi di gua hiro untuk menerima wahyu?", bejo terdiam, kemudian cak pri berkata kembali, "cari ilmu itu tidak terbatas kapan, dimana, dan dari siapa jo, jadi kapan saja. dimana saja, dan dari siapa saja kalau ilmu itu bermanfaat ya ambil saja", "gitu ya cak, tapi kebanyakan orang yang berilmu itu agak pelit bagi ilmunya" timpal bejo, "ya yang namanya belajar itu kan gak harus dari buku dan tanya ke orang jo, dari kejdian sehari-hari kan bisa jo" jawab cak pri, "contohnya apa cak pri" tanya bejo kembali, "coba kamu lihat kang jiwo itu, dia tiap hari berkumpul dengan kendaraan, dari yang jelek sampai yang mewah dia pernah pegang, tapi jo apa kang jiwo pernah merasa malu kalau yang dia pakir mobil butut, dan apa dia juga pernah bangga kalau yang di parkir mobil mewah? bukan hanya itu jo, saat mobil mewah yang diparkir kang jiwo di ambil yang punya apa kang jiwo merasa sedih atau kehilangan?" bejo mendengarkan sambil terdiam,"kamu pasti tau jawabannya jo, kang jiwo tidak akan merasa sedih, bangga atau kehilangan kan?", "betul cak pri, tapi itu wajar cak lah wong bukan miliknya" bejo menjawab, sambil tertawa cak pri melanjutkan bicaranya "lah itu intinya kamu bisa ambil pelajaran dari tukang pakir, kang jiwo seperti itu karena kang jiwo tidak merasa memiliki, bukankah kita terlahir tanpa membawa sehelai benang pun, jadi apa yang membuat kamu merasa sedih saat kehilangan harta bendamu, bahkan jo yang lebih parah akhir-akhir ini para anak muda kalau sedang pacaran, wih setengah mati jo, katanya serasa dunia ini milik berdua, yang lebih parah mereka itu lebih menuruti kata pacarnya dari pada kata orang tuanya, karena mereka takut kehilangan pacar jo", "cak pri ini nyindir aku ya, aku pergi dari rumah kan gara-gara itu cak" jawab bejo, "bukannya nyindir jo tapi itu kenyataan, lebih baik kamu cepet pulang jo, kasihan orangtua mu, mereka pasti kuwatir dengan kamu" tutur cak pri.
"ini jo aku ada cerita, ada sebuah riwayat, kurang lebih ceritanya seperti ini, suatu hari nabi Musa pergi ke gunung tursina untuk berdialog dengan Tuhannya, nabi Musa bertanya siapakah orang mulia selain aku, kemudia beliau di suru kesebuah desa di situ beliau bertemu dengan seorang anak muda yang sedang memandikan 2 ekor babi, setelah di mandikan kemudian babi itu dirawat layaknya manusia, saking penasarannya jo, beliau bertanya pada pemuda itu kenapa kok sampai segitunya pada babi, kemudian pemuda itu menjawab babi itu adalah orang tuanya, karena dosa yang begitu besar kemudian Tuhan menjadikan mereka babi, lah orang mulia itu seperti itu loh jo, tapi pelajarannya bukan itu, seburuk dan sejelek apapun perbuatan orangtua mu, sebagai anak kamu wajib menghormatinya bukan dengan cara lari dari kenyataan gini" papar cak pri panjang lebar.
Hari sudah menjelang senja kang jiwo selesai dengan tugasnya, "ayo jo kita pulang, kamu mau tetep ikut aku pulang ke gubukku atau kembali pulang kerumahmu" ajak kang jiwo, kemudian bejo menjawab "sepertinya lebih baik aku pulang kerumah saja kang, terima kasih disini aku di terima dengan baik, terima kasih juga untuk cak pri atas pelajaran yang buanyak tadi, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian berdua".
Akhirnya bejo kembali kerumahnya, kemudia memintah maaf pada kedua orangtuanya, atas kesalahan yang selama ini tidak sengaja dibuatnya, dan akhirnya cerita ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan merupakan sebuah pelajaran bagi diri saya pribadi, di lain kesempatan akan ada cerita-cerita bejo yang lebih menarik.
Bersambung.........................
Diposkan oleh Debu Kehidupan di 11:51 0 komentar
18 September 2009
Bejo Belajar 'Psikologi Jalanan'
Bejo berjalan tanpa tujuan yang jelas, dia hanya memikirkan solusi dari masalah ini, sampai akhirnya di suatu tempat bejo bertemu dengan seorang tukang parkir, sebut saja namanya kang jiwo. Kang jiwo ini orangnya agak nyentrik, rambutnya panjang tapi di kuncit model kelabang ala artis gombloh, singkat cerita ada beberapa pembicaraan antara bejo dan kang jiwo yang cukup menarik.
Bejo bertanya "kang menurut sampean yang di sebut takdir itu yang bagaimana?", sambil tersenyum khas dengan giginya yang bogang kang jiwo menjawab "kalau menurut ku jo, takdir itu ada dua macam, yang pertama takdir yang sama sekali kita tidak bisa memilih, contohnya kapan kita lahir, mau dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan, dilahirkan di keluarga miskin atau kaya, semuanya kita tidak dapat memilih", "apa kamu pernah dikasih pilihan tentang hal itu?" kang jiwo balik bertanya, "seingatku ya tidak pernah kang! mau dilahirkan kapan, miskin atau kaya, laki-laki atau wanita, tidak tidak bisa milih" bejo menjawab, kemudian kang jiwo melanjutkan kata-katanya "ya itulah takdir yang pertama, kalau takdir yang kedua adalah takdir yang seolah-olah kita bisa memilih jo!, yang ini contohnya malah lebih banyak jo", "maksudnya apa kang kok seolah-olah bisa memilih", "he..he.." kang jiwo kembali tersenyum "sebenarnya manusia ini hidup didunia hanya sekedar menjalankan seni peran jo, alias kita ini sebenarnya sedang menjadi artis di panggung sandiwara", kang jiwo melanjutkan bicaranya "aku jadi ingat sebuah hadist yang diriwayatkan imam muslim, di situ dijelaskan kurang lebihnya 40 hari setelah ruh di tiupkan dalam bayi yang ada di kandungan, semua jalan hidupnya sudah tertulis lengkap, itu artinya kita hidup ini tinggal menjalani, ya seolah-olah kita di beri kebebasan yang sebenarnya sudah diatur, tapi ini menurut pendapatku loh jo, kalau nggak cocok dengan kamu ya nggak apa-apa anggap saja angin lalu" tutur kang jiwo sambil menyedot rokoknya dalam-dalam.
"Sebenarnya kamu lari dari rumah seperti ini kenapa jo", bejo menjawab "sebenarnya masalahnya sepeleh kang, aku sedang jatuh cinta pada anak seorang teman bapak ku, tapi bapakku agaknya kurang suka", "oalah tentang cinta ta jo, itu biasa jo, mungkin bapak kamu punya pertimbangan lain" kang jiwo menjawab, bicara soal masalahmu jo, aku jadi ingat pernah mambaca buku, kalau tidak salah judulnya mengubah hambatan menjadi peluang",kang jiwo meneruskan tuturnya,"kadang aku malu jo jadi manusia, aku kandang bicara yang terlalu menggebu-nggebu tentang cinta pada Tuhan, padahal aku ini paling ingat Tuhan hanya 10% dari 24 jam hidupku itupun hanya di 5 waktu tertentu, padahal kalau kita ngomong tentang cinta, misalnya kamu jo, kalau sedang jatuh cinta pada seorang gadis, bangun tidur kamu ingat dia, dijalan kamu tetep mikir dia, sampai mau tidur kamu tetep mikirin dia, betul nggak jo?", bejo menjawab "betul juga kang, selama ini saya juga begitu, jarang sekali saya memikirkan tentang nikmat Tuhan yang diberikan ke saya, saya jadi malu kang","he..he.." mereka berdua tersenyum sambil menahan malu, "sementara sampai sini dulu jo!, sementara kamu boleh bermalam dirumahku, aku mau melanjutkan kerja dulu, di lain waktu kita bisa melanjutkan diskusi ini".
Akhinya bejo bermalam di rumah kang jiwo sambil menimba ilmu psikologi jalanan, di lain hari pembicaraan antara kang jiwo dan bejo akan lebih seru dan akan saya ceritakan di posting berikutnya, sementara ini yang bisa saya ceritakan, mohon maaf jika ada kesalahan.
Bersambung......
Diposkan oleh Debu Kehidupan di 10:39 0 komentar
08 September 2009
Bejo Kesandung "Cinta"
Suatu hari bejo di utus ayahnya pergi ke sanak saudaranya di negri sebrang, bejo di utus untuk bersilaturahmi ke pak ciknya, kemudian berangkatlah bejo pada hari itu juga, bejo sudah lama tidak pernah di ajak ayahnya pergi mengunjungi pak ciknya yang ini, terakhir saat bejo masih bayi sekitar umur 2 tahun, jadi agak lumayan susah untuk menemui pak ciknya ini, apalagi hanya bermodal secarik kertas dengan alamat dan sebuah foto, bejo harus mencari extra keras untuk menemukan pak ciknya, akhirnya di akhir minggu, sampai pula bejo di alamat yang di tuju.
Bejo diterima dengan baik di rumah pak cik, tapi disitulah awal dari terperosoknya akibat berkata takabur, pak cik ini sebenarnya bukan saudara kandung dari bapaknya bejo, pak cik dan bapaknya bejo adalah sahabat karib mereka bertempur bersama saat perang kemerdekaan, tapi pak cik memilih pindah keluar negeri karena jasa pak cik tidak pernah di hargai oleh negeri ini, biarpun begitu hubungan pak cik dan bapaknya bejo masih tetap terjaga dengan baik. Dirumah itu bejo di terima oleh anaknya pak cik, Mila namanya, dia gadis yang rupawan, rendah hati dan juga sangat sopan, "dari mana ya mas?" mila bertanya pada bejo, "dari seberang dik, saya anak pak marwoto sahabat karib pak cik, saya di utus kesini untuk mengetahui kabar pak cik, sudah lama bapak kehilangan kabar pak cik, abah ada?" , "abah sedang ke kebun, coba mas tunggu sebentar saya panggilkan", kemudian Mila meninggalkan bejo sendiri di ruang tamu, perasaan bejo jadi tidak karuan, belum pernah bejo menemui gadis yang sangat rupawan seperti Mila.
"Assalamualaikum" pak cik memberi salam, tapi bejo masih dalam lamunannya, sampai tiga kali pak cik mencucapkan salam, bejo masih tetap dalam lamunan, akhirnya pak cik menepuk pundak bejo sambil mengucapkan salam kembali, sambil terkaget bejo menjawab, " wa..wa..walaikum salam pak cik", pak cik tersenyum sambil menyapa,"kau bejo anak pak woto kah, dulu masih di gendong ibumu", "benar pak cik saya bejo, saya di utus abah untuk silaturahmi kemari, untuk tau kabar pak cik" bejo menjawab, pembicaraan berlangsung haru dan sangat akrab, dan akhirnya bejo pamit pada pak cik untuk pulang.
Di tengah perjalan pulang pikiran bejo tidak bisa lepas dari wajah mila, bejo slalu terbayang-bayang wajahnya, sampai kebiasaannya yang selalu berdzikir saat di perjalanan di lupakannya, perasaan campur baur berkecamuk dalam otaknya, akhirnya bejo di ujung desanya, bertemulah dia dengan kang jiwo, kang jiwo ini di desanya dikenal sebagai orang yang unik, dan cukup di segani, karena dalam pergaulan kang jiwo selalu bisa mengikuti lawan bicaranya, "dari mana jo" kang jiwo menyapa, "ehh anu kang dari negeri seberang", "kenapa kamu jo kok kelihatannya kepikiran kayak gitu", "kang jiwo ini tahu saja, ini.., eh.. anu kang, aku lagi kepikiran wanita",kang jiwo menanggapi "oh kamu ini kemakan omonganmu sendiri jo, kemaren tejo cerita sama aku, katanya kamu kemaren bilang ke tejo, hatiku ini tak akan dapat di luluhkan oleh siapapun apalagi seorang wanita yang lemah", kang jiwo melanjutkan bicaranya "wanita itu ibarat belut jo, susah di tangkap, sekali ketangkap, gampang lepas kembali, sangat misterius jadi sulit di tebak, kamu tau orang-orang barat itu, kenapa mereka memberi nama badai dan gempa dengan nama-nama wanita, ada badai isabel, katerina, ike dan masih buanyak lagi jo, karena sama-sama gak bisa di tebak jo, he..he..", kang jiwo tertawa melihat keadaan bejo, kang bejo melanjutkan bicaranya "katanya kamu sudah berguru ke timur, kamu pasti dapat pelajaran membacakan", "iya kang aku dapat pelajaran membaca" bejo menjawab, " lah itu artinya bacaan mu masih kurang, coba baca dan pelajari lagi, ya sudah jo aku mau kesah dulu", kang jiwo bergegas meninggalkan bejo dengan sedikit penceranhan, akhirnya bejo dapat membagi pikiran dengan baik, antara dunia dan akhirat, antara lahir dan bati, jiwa dan raga.
Sementara ini kisah yang dapat saya ceritakan, maaf kalau ada kesalahan, semoga bermanfaat.
Bersambung..............
Diposkan oleh Debu Kehidupan di 11:19 0 komentar
07 September 2009
Bejo Mencari "Guru"
Dibawah langit biru dan teriknya sinar matahari yang membakar, Tidak seperti biasanya Bejo mondar-mandir seperti orang kebingungan, Sampai abahnya juga bingung "ada apa jo kamu kok mondar-mandir, buat yang melihat jadi bingung juga", Bejo menjawab "abah aku ingin benar-benar faham dengan keyakinanku, selama ini aku hanya menjalani apa yang abah jalani, tanpa tau apa makna sebenarnya apa yang aku jalani, aku ingin benar-benar mengerti, abah", dengan bijak abahnya berkata "konon di timur sana, perbatasan antara dua rimba ada seorang bijak yang sangat terkenal, bergurulah padanya, wahai anakku", mendengar kata abahnya wajah Bejo langsung sumringah, bukan hanya karena Bejo akan bertemu seorang yang bijak, tapi dasar Bejo memang senang berkelana jadi sambil menyelam dapat mutiara, betapa senangnya.
Keesokan harinya Bejo segera bergegas membereskan semua bekal yang akan di bawanya, "abah Bejo berangkat, doakan bejo selamat lahir batin", Sudah 3 hari Bejo berjalan menuju timur, Jangankan seorang guru, seorang pun tidak dia temui selama perjalanan, akhirnya bejo sampai di perbatasan dua hutan atau rimba, dia menoleh kanan dan kiri, sambil mencari sosok yang di cari, agak lama dia berdiri, hampir putus asa dia berjalan kesebuah batu besar, maksud hati ingin beristirahat, baru bebepara saat menyandarkan kepala, sebuah suara mengagetkannya "apa yang kau cari wahai pemuda?", masih dalam keadaan kaget bejo berusaha untuk duduk, di sampingnya sudah duduk sosok tubuh tua berjanggut panjang dan berpakaian serbah putih, "wahai tuan, siapa anda?, kenapa tiba-tiba anda ada disini?","aku mungkin orang yang sedang kau cari, dan aku dari tadi sudah disini, mungkin karena engkau terlalu bingung, jadi kau tak memperhatikanku", masih dalam sisa-sisa kekagetan bejo bertanya lagi, "wahai tuan guru, ajarkanlah saya sesuatu yang dapat memantapkan imam saya", sosok tua itu tersenyum sambil berdiri dan berjalan menjauhi tempat duduk bejo, kemudia bejo beranjak mengikut sang guru, "kenapa guru tidak menjawab permohonanku", sang guru menjawab "apakah engkau yakin aku bisa membimbingmu", terdiam sejenak kemudia bejo menjawab "saya yakin Guru", "waktu sudah senja, ayo kita pulang ke gubuk ku" pak tua itu mengajak bejo naik kesebuah bukit yang di situ terdapat pondoknya.
Kabut malam mulai menyelimuti lereng bukit, rasa dingin mulai menusuk tulang, sambil gelisah menunggu apa yang akan di ajarkan gurunya itu, lama menunggu akhirnya bejo tidak sabar juga, "wahai guru apa sebenarnya yang akan guru ajarkan", guru itu menjawab "Bacalah!!!", sambil terheran-heran bejo memandangi gurunya memperhatikan satu persatu, "wahai guru, apa yang perlu saya baca, sedangkan engkau tidak memberikan apapun, buku atau tulisan","wahai pemuda, tidak hanya buku yang bisa kau baca, ada satu hal yang bisa kau baca dan tak akan pernah habis" guru itu menjawab, dalam ke bingungan bejo bertanya lagi "apakah itu wahai sang guru, tolong beri saya petunjuk", dengan mantap sang guru menjawab "bacalah karya alam semesta ini, perhatikan fenomena yang terjadi, ambil pelajaran dari sana, gunakan untuk kebaikan", wajah bejo berubah jadi sangat gembira, mestipun ini hanya awal, dari perjalanan panjang yang akan dia lalui, tapi setidaknya ada setitik cahaya yang menyinari hatinya.
Sementara mungkin ini yang bisa saya ceritakan, di lain hari masih banyak sambungan-sambungan cerita yang akan saya ceritakan, semoga ada manfaatnya bagi para pembaca, terimah kasih.
Bersambung........
Diposkan oleh Debu Kehidupan di 12:27 0 komentar
04 September 2009
Bejo & Laskar Pelangi
Bayi Bejo mulai beranjak menjadi anak yang sangat cerdas, walaupun banyak kekurangan yang di milikinya sejak lahir, Konon kecerdasan itu dia dapat setelah menonton film yang berjudul "Laskar Pelangi", Sebenarnya tidak ada kaitan langsung antara kecerdasan yang di miliki Bejo dengan laskar pelangi, tapi ada satu kalimat dalam film itu yang selalu terngiang di telinga Bejo, Mungkin para pembaca tahu kalimat apa itu? coba tebak! Ya anda benar satu kalimat yang di ucapkan pak cik Harfan "Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya dan bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya" kata-kata ini sangat sederhana tapi sangat menghujam di hati Bejo dan siapa saja yang mendengarnya, tentunya kalau yang dengar masih punya hati, he..he..he...
Dalam sepi Bejo selalu merenung memikirkan kalimat itu apa dan kenapa maksud dari kalimat itu, banyak sekali tafsir tentang maknanya, suatu saat Bejo membaca buku agama, di situ tertulis kalimat yang hampir sama dengan kata-kata pakcik, hanya di situ kurang ada penekanan dalam kalimatnya, kalau tidak salah sebagian katanya adalah "perbanyaklah memberi sedekah, dengan iming-iming yang tidak nyata", Tapi di situ bejo menemukan korelasi antara dua kalimat itu, Ya itu adalah kata "perbanyak memberi", Disisi lain Bejo masih agak bingung menemukan kunci dari pertanyaan itu.
Saat senja datang menyelimuti bumi, Bejo mencoba menemui dua sahabatnya, Surti dan Tejo yang pernah sekilas saya ceritakan di posting awal, antara Surti dan Tejo ada hubungan khusus, bisa di bilang hubungan percintaan, mungkin karna nasib keduanya sama yaitu lahir kedunia dengan cap negatif jadi mereka berdua merasa senasib dan sepenanggungan, Bejo selalu mengamati gerak-gerik Surti dan Tejo, ada yang janggal menurut Bejo dengan kelakuan Tejo, dia selalu menuruti apa yang di minta Surti, Bahkan mungkin kalau Surti meminta nyawanya Tejo akan dengan ikhlas memberinya, Bejo berfikir keras kenapa bisa begini!!, Sejenak Bejo terdiam, kemudian dia tersenyum sendiri sambil berkata " Aku tahu jawabannya, hua..ha...ha.., Tejo melakukan itu karena Tejo mempunyai cinta yang tulus pada Surti, cinta yang tanpa mengharapkan imbalan atau timbal balik, cinta yang sangat tulus", Wajah Bejo Sumringah, dia kegirangan karena dia sudah menemukan kuncinya.
Dengan cinta yang tulus pada sesama manusia, kita akan menjadi generasi yang lebih banyak memberi bukan menerima, "Cinta" ya.., itu lah kuncinya, Orang yang sedang jatuh cinta akan memberikan segala-galanya bagi yang di cintainya, dengan cinta kepada Tuhan kita tidak akan menghianati Tuhan dengan perbuatan yang tidak jujur, khianat dan perbuatan negatif lainnya pada sesama manusia, Sementara cukup ini yang yang saya dapat ceritakan tentang perjalanan Bejo, Dilain waktu tentunya akan ada kisah-kisah Bejo yang bisa kita jadikan pelajaran.
Bersambung....................
Diposkan oleh Debu Kehidupan di 12:32 0 komentar
03 September 2009
Bejo Lahir Ke Bumi

Ini adalah titik awal sebuah perjalanan anak manusia yang melewati hitam putihnya kehidupan, format tulisannya sengaja saya ganti menjadi sebuah cerita yang semoga dari cerita ini kita bisa mengambil pelajaran yang berguna bagi masing-masing pribadi kita sendiri, segera saja kita mulai cerita ini.
Bejo, Sebuah nama yang di berikan seorang ayah pada bayi yang baru lahir itu, dia lahir dengan wajah yang menakutkan, tapi masih beruntung nasibnya karna ayah Bejo adalah seorang tokoh masyarakat yang terpandang di daerahnya, berbeda dengan dua bayi yang lahir berbarengan dengan bejo, Surti dan Tejo mengalami nasib yang lebih tragis, Surti di cap anak haram karena dia lahir tanpa jelas siapa bapaknya, sama halnya dengan Tejo, masa depan nya juga suram karena Tejo adalah anak seorang pahlawan yang di tuduh penghianat oleh negaranya, dan itu berarti cita-cita yang mungkin Tejo punyai untuk menjadi PNS punah sudah.
Lepas dari itu penderitaan bayi-bayi yang harus menanggung dosa orang tuanya itu, padahal kata orang bijak, tiap bayi yang lahir kedunia ini tanpa dosa, seperti kertas putih, polos tanpa warna, tapi kenyataannya banyak bayi yang terlahir kedunia banyak yang menanggung kesalahan orang tuanya, di posting saya yang lalu ada yang berjudul berguru pada bayi, di sini akan saya sedikit ulas posting itu, sebelum Bejo bisa berjalan, pertama yang ia bisa hanyalah mendengar dan menangis sama seperti bayi pada umumnya, setelah umurnya beberapa hari baru Bejo bisa melihat gemerlapnya dunia, dia belajar mengenal berbagai wajah, dari wajah orang baik sampai wajah orang yang pura-pura baik, mungkin para pembaca lebih tau yang mana yang betul-betul baik dan yang pura-pura baik, setelah Bejo Bisa melihat, dia mencoba belajar untuk merangkak dan berdiri, walaupun agak tertatih-tatih bejo kecil terus berusaha, sampai akhirnya dia bisa berjalan dengan sempurna, sambil berjalan bejo juga mencoba belajar berkata-kata alias ngomong, meskipun wajah bejo agak menakutkan tapi apa yang dikatakan bejo selalu membuat yang mendengarnya tertawa dan sedikit melupakan semua penat kehidupan pendengarnya.
Kiranya sementara sampai disini dulu cerita ini, ada pelajaran yang bisa kita ambil disini, untuk bisa membuat orang lain senangatau bahagia bila berada di dekat kita harusnya kita melewati tahapan-tahapan bejo kecil, banyak-banyaklah mendengar, kemudian lihat faktanya, lakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat, baru kita bisa bicara, sekian dulu dari saya semoga bermanfaat.
Bersambung........
Diposkan oleh Debu Kehidupan di 12:44 0 komentar












